Latest Post

Ketegaran Seorang Anak Yatim Piatu

Inilah kisah inspirasional yang sungguh mengharukan dan menggetarkan hati. Betapa polos dan lugunya hati seorang bocah yang bisa menerima semuanya apa adanya. Tak ada keluh kesah dan kerendahan diri.
 Yang ada hanyalah ketabahan, kesederhanaan, dan kenaifan yang terbungkus dalam kepolosan hatinya.

—–

Aku menatap bocah enam tahun yang berdiri di depanku. Tubuhnya penuh dengan daki. Aroma tak sedap merasuki penciumanku. Entah sudah berapa lama tubuhnya yang mungil tak bersentuhan dengan air dan sabun mandi.

Bola matanya yang indah memancarkan sebuah semangat. Astaga! Senyumannya manis sekali ketika dia tersenyum padaku. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya. Laksana pelangi yang menghiasai langit hujan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku sambil membalas senyumnya.

“Alexander,” jawabnya sambil tangannya memainkan ujung bajunya yang memiliki banyak tambalan.

“Alex, datang dengan siapa ke sini?”

Diam. Tak ada jawaban. Pandangannya menyapu lantai kelas yang kosong. Masih belum ada murid yang datang. Biasanya kalau hujan seperti ini murid-murid datangnya suka agak telat.
Ada sebutir air mata yang mendadak jatuh membasahi pipinya. Aku menjadi bingung dengan reaksinya atas pertanyanku.

“Alex, datang sendiri ya?” tanyaku sambil menggengam tangannya yang dingin.

“Emang kalau ngga ada mama sama papa ngga boleh sekolah di sini ya, kak?” jawabnya pelan.

Jawaban Alex menusuk hatiku.

“Siapa pun bisa belajar di sini. Termasuk kamu,” jawabku lalu mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut.

“Alex ngga punya papa dan mama. Papa dan mama Alex sudah meninggal. Alex hanya tinggal dengan nenek.”

Aku memperhatikan kantong plastik tua yang dibawanya. Merasa, aku penasaran dengan isi kantong plastik tersebut. Alex langsung mengeluarkan isinya.

Ya Tuhan! Aku mencoba membendung air mataku tidak jatuh.

Miris. Sesak. Sedih dan terharu menyatu di dalam dadaku melihat isi kantong plastik yang di bawanya.
Dengan bangganya dia memperlihatkanku, beberapa lembar kalender usang yang telah dipotong empat lalu di lobangi dan diikat dengan tali dijadikan buku. Sebuah pensil yang sepertinya sudah di serut dengan pisau.

“Buku Alex, jelek ya kak?” Aku langsung memeluknya.

Suaraku sepertinya tertahan di tenggorokanku. Aku tak mampu mengatakan apa pun. Air mataku pun berhasil jatuh. Aku mengagumi semangatnya yang ingin belajar. Sebuah semangat yang luar biasa di antara keterbatasan yang dimilikinya.

Sewaktu aku kecil, aku sering merobek bukuku hanya untuk membuat pesawat kertas atau perahu. Ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA, bukuku sering penuh dengan coretan yang tidak jelas.

*****
Selesai kelas dan anak-anak lainnya sudah pulang semua. Aku menggantar Alex pulang. Bukan karena dia tidak bisa pulang sendiri. Tapi aku ingin melihat di mana dia tinggal.

“Kakak, ini rumah Alex!” ucapnya dengan penuh kebanggan. Tak ada sedikit pun rasa malu.

Ini bukan rumah apa lagi gubuk.

Aku memperhatikan hamparan tikar tua yang menjadi alas. Sekat setinggi lutut orang dewasa mengelilingi rumah Alex. Tidak ada dinding sama sekali apa lagi atap. Jalan tol megah menjadi atapnya. Tumpukan kardus menjadi perabot rumah tersebut. Halamannya penuh dengan tumpukan gelas dan botol bekas air mineral.

“Masuk, kak! Nenek lagi ngga ada. Masih mulung!”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya. Aku masuk lalu menghempaskan tubuhku ke lantai.

“Kak, ini airnya diminum ya,” ucap Alex lalu menyerahkan segelas air putih.

Aku meraih gelas yang penuh dengan air putih tersebut lalu meminumnya. Terasa aneh di lidahku. Sepertinya itu adalah air sumur yang telah di rebus.

*****
Dalam kurun dua minggu Alex sudah bisa mengenal semua abjad dan angka. Prestasi yang tidak dapat diikuti oleh teman-teman sekelasnya yang lain.

“Wow! Alex hebat! Sudah bisa mengenal semua huruf,” pujiku setelah kelas selesai.

Dengan malu-malu dia tersenyum padaku. Detik berikutnya, dia mencari sesuatu di dalam tas yang pernah aku berikan padanya.

“Alex, mau bisa membaca kitab suci seperti mama dan papa dulu. Makanya Alex mau belajar.”

Wajahku rasanya seperti tertampar. “Maafkan aku, Tuhan. Pagi ini aku telah melupakanMu. Aku tidak membaca sabda suciMu,” Bisikku dalam hati.

*****

Wajahku memancarkan kegelisahan. Entah kenapa, aku merasa kuatir ketika Alex belum juga datang. Tidak seperti biasanya, jam segini dia sudah datang. Selalu dia menjadi murid yang pertama kali hadir di kelas. Lima menit lagi kelas akan di mulai.

Hingga waktu jam proses belajar mengajar, Alex tidak datang.

“Sakitkah dia?” tanyaku dallam hati.

Tak ada satu pun yang tahu alasan Alex tidak hadir hari ini di kelas.
Selesai kelas, aku langsung bergegas menuju ke tempat tinggalnya. Sebelum sampai ke rumah Alex, seorang ibu menyapaku.

“Cari Alex ya, kak?”

Aku menganggukan kepala sambil menjawab “Iya, bu!”

“Alex di rumah sakit, kak! Semalam Alex …….”

Sungguh, aku tidak mampu mendengar penjelasan ibu tersebut. Seragam dan perlengkapan sekolah yang aku pegang untuk Alex rasanya ingin lepas dari tanganku.

*****
Rasanya langit seperti runtuh dan menimpaku ketika melihat keadaan Alex. Tangan kanannya penuh dengan perban. Alex kecelakaan ketika membantu neneknya memulung dan tangan kanannya terlindas ban truk sehingga dia harus diamputasi. Dengan bekal pinjaman sana-sini dan bantuan tetangga serta pengguna jalan raya yang menyaksikan peristiwa tersebut, akhirnya Alex di bawa ke rumah sakit.

Kantong plastik yang berisi seragam sekolah, tas dan perlengkapan sekolah terlepas dari tanganku. Masih terngiang dikepalaku percakapan kami kemaren.

“Kak, Alex mau masuk SD tapi kata nenek, uangnya belum cukup. Katanya baju seragam sekolah mahal.

Tapi Alex percaya kalau Tuhan pasti akan kasih nenek duit biar Alex bisa sekolah.”

“Alex, pasti sekolah. Percayalah!”

Tangan kanannya yang buntung dibalut perban. Betapa mirisnya hatiku melihat perban itu. Aku melihat tubuhnya yang pucat dan menahan rasa sakit diantara selang infus yang masih terpasang ditubuhnya.

Aku mengumpulkan semua kekuatanku hanya untuk menyapanya.

“Hallo, Alex?”

Aku duduk di sisinya. Aku membelai rambutnya.

“Kak, tangan Alex sakit sekali. Tangan Alex kenapa dipotong? Kan Alex mau nulis?”

Aku mencoba untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh membasahi pipiku. Aku tidak boleh menangis didepan Alex.

“Alex pasti sembuh!” kataku mencoba menghiburnya.

“Kalo Alex sembuh itu artinya tangan Alex tumbuh lagi ya, kak?”

Nenek Alex yang berdiri dibelakangku memegang erat pundakku. Hanya Tuhan yang tau betapa perihnya hati ini melihat keadaan Alex.

“Iya, Alex lupa. Alex bisa menulis pakai tangan kiri. Kalau Tuhan ngga kasih mujizat untuk numbuhin tangan kanan Alex, tuhan pasti kasih mujizat buat Alex untuk menulis dengan tangan kiri.” Ucapnya dengan senyuman.

Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku juga merasakan tetesan air mata nenek Alex jatuh membasahi bahuku. Aku ngga bisa membayangkan kalau aku mengalami apa yang dialaminya. Aku mungkin bisa gila! Tapi berbeda dengan Alex. Dia tetap optimis meski dia sendiri tidak tahu arti optimis itu apa.

-------------
Muharram Ceria Bersama Yatim - Mari Kita Hantarkan Mereka Mewujudkan Harapan dan Cita - cita
Dengan Hanya 200rb anda telah turut berpartisipasi untuk memberikan 1 paket Pendidikan berupa :
1. Tas Sekolah
2. Alat Tulis
3. T-shirt
4. Uang Saku

Donasi :
Bank Syariah Mandiri 037 008 3987
Bank Muamalat Indonesia 526 000 4267
BNI Syariah 177 002 0103
 
Informasi ebih Lanjut Hubungi : 0823 2985 5000
Kantor Pusat
Jl. Ki Ageng Gribig No.8 Sangkal Putung, Gedung Lantai 2 Klaten Utara.
Telp. (0272) 325 805

Kantor Cabang Solo
Pajajaran Barat I No. 48 RT 02/ RW XVII Sumber Kec. Banjarsari, Surakarta 57138
Telp. (0271) 758 2930

Kantor Cabang Yogyakarta
Jl. Ring Road Timur, Banguntapan Bantul, Yogyakarta ( Perempatan Bangjo Karangturi )
Telp. 0815 7805 9694

Read more: http://kisahin.blogspot.com/2012/10/ketegaran-seorang-anak-yatim-piatu.html#ixzz2tdj913fr
 

Gusno si Anak merapi








Setiap pagi & siang harus menelusuri jurang yg dalamnya kira" 100 m untuk berangkat dan pulang sekolah karena memang dia tinggal di sebuah kampung yg dikelilingi jurang di lereng Merapi .Kampung itu namanya Gerpasang,, desaTegalmulyo,Kemalang,Klaten.Kampung tersebut hanya dihuni 10 KK yg semua masih satu trah < garis keturunan >.Medannya yg cukup sulit,,membuat orang enggan untuk bertandang ke kampung ini.Diperlukan tekad & stamina yg prima u/ sampai ke kampung tersebut.
Setiap pagi Gusno berangkat ke sekolah dgn waktu +- 1 jam dg jalan kaki,,,belum lagi kalau kondisi hujan, bisa +- 1,5 jam.Hal itu dia lakukan dengan senang hati demi u/ masa depannya.
Ayah Gusno sudah tiada sehingga dia tinggal dirumah bersama ibu & neneknya.sementara kakaknya yg sekarang sekolah SMP,hanya pulang setiap hari Ahad karena sepulang sekolah kemudian masuk pondok.

>>>> Gusno adalah salah satu dari sekian ratus anak yatim yg akan disantuni oleh Dompet Sejuta Harapan < DSH >
Sahabat semua,,,silahkan yg ingin berpartisipasi u/ berbagi keceriaan dg mereka dalam program " Muharrom Ceria bersama Yatim " insyaAllah akan diselenggarakan pada 30 Nopember & 1 desember 2013.
>>>>>JANGAN BIARKAN MEREKA BERSEDIH <<<<<
>>>donasi bisa di antar ke kantor DSH atau diambil oleh Duta DSH atau bisa juga via transfer ke rek DSH

Sahabat semua,,,silahkan yg ingin berpartisipasi u/ berbagi keceriaan dg mereka dalam program " Muharrom Ceria bersama Yatim " insyaAllah akan diselenggarakan pada 30 Nopember & 1 desember 2013.
>>>>>JANGAN BIARKAN MEREKA BERSEDIH <<<<<
>>>donasi bisa di antar ke kantor DSH atau diambil oleh Duta DSH atau bisa juga via transfer ke rek DSH

-------------

Muharram Ceria Bersama Yatim - Mari Kita Hantarkan Mereka Mewujudkan Harapan dan Cita - cita
Dengan Hanya 200rb anda telah turut berpartisipasi untuk memberikan 1 paket Pendidikan berupa :
1. Tas Sekolah
2. Alat Tulis
3. T-shirt
4. Uang Saku

Donasi :
Bank Syariah Mandiri 037 008 3987
Bank Muamalat Indonesia 526 000 4267
BNI Syariah 177 002 0103
 
Informasi ebih Lanjut Hubungi : 0823 2985 5000
Kantor Pusat
Jl. Ki Ageng Gribig No.8 Sangkal Putung, Gedung Lantai 2 Klaten Utara.
Telp. (0272) 325 805

Kantor Cabang Solo
Pajajaran Barat I No. 48 RT 02/ RW XVII Sumber Kec. Banjarsari, Surakarta 57138
Telp. (0271) 758 2930

Kantor Cabang Yogyakarta
Jl. Ring Road Timur, Banguntapan Bantul, Yogyakarta ( Perempatan Bangjo Karangturi )
Telp. 0815 7805 9694

 

Menyantuni Anak Yatim

Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan mati ayahnya selagi ia belum mencapai umur balig. Dalam Islam, anak yatim memiliki kedudukan tersendiri. Mereka mendapat perhatian khusus dari Rasulullah saw. Ini tiada lain demi untuk menjaga kelangsungan hidupnya agar jangan sampai telantar hingga menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, banyak sekali hadis yang menyatakan betapa mulianya orang yang mau memelihara anak yatim atau menyantuninya. Sayang, anjuran Beliau itu sampai kini belum begitu mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat. Hanya sebagian kecil saja umat Islam yang mau memperhatikan anjuran itu. Hal ini semestinya tidak layak dilakukan umat Islam yang inti ajarannya banyak menganjurkan saling tolong sesama umat Islam dan bahkan selain umat Islam.
Di Indonesia, khususnya di desa-desa, sampai sekarang kebiasaan memberi uang ala kadarnya pada tanggal 10 Muharam kepada anak yatim masih berlaku. Pada setiap tanggal 10 Muharam, anak-anak yatim bergerombol-gerombol mendatangi rumah-rumah orang kaya atau para dermawan. Di situ mereka memperoleh pembagian uang. Kebiasaan demikian sungguh amat terpuji, tetapi apakah para anak yatim hanya butuh bantuan sekali itu?
Tentunya tidak. Mereka membutuhkan bimbingan sampai dirinya mampu mengarungi bahtera kehidupannya sendiri. Betapa mulianya orang yang mau berbuat demikian, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari bersumber dari Sahl bin Sa’ad bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Allah sendiri berfirman yang artinya, “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa besar (An-Nisaa:2).
Anak yang ditinggal mati oleh ibunya ketika ia masih kecil bukanlah termasuk anak yatim. Sebab bila kita lihat arti kata yatim sendiri ialah kehilangan induknya yang menanggung nafkah. Di dalam Islam yang menjadi penanggung jawab urusan nafkah ini ialah ayah, bukan ibu. Alquran telah menjelaskan adanya larangan memakan harta anak yatim dengan cara lalim sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya orang yang memakan harta anak yatim secara lalim. Sebenarnya mereka itu menelan api neraka sepuluh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” (An-Nisaa: 10).
Ismail bin Abdurrahman berkata, “Pemakan harta anak yatim dengan lalim itu besok di hari kiamat akan dikumpulkan dan di waktu itu keluarlah api yang menyala-nyala dari mulutnya, telinganya dan matanya sehingga semua orang mengenalnya bahwa ia sebagai pemakan harta anak yatim.”
Para ulama berkata, bagi setiap wali anak yatim bilamana ia dalam keadaan fakir diperbolehkan baginya memakan sebagian anak yatim dengan cara ma’ruf (baik) menurut sekadar kebutuhannya saja demi kemaslahatan untuk memenuhi kebutuhannya tidak boleh berlebih-lebihan dan jika berlebih-lebihan akan menjadi haram. Menurut Ibnul Jauzi dalam menafsirkan “bil ma’ruf” ada 4 jalan yaitu, pertama, mengambil harta anak yatim dengan jalan kiradl. Kedua, memakannya sekadar memenuhi kebutuhan saja. Ketiga, mengambil harta anak yatim hanya sebagai imbalan, apabila ia telah bekerja untuk kepentingan mengurus harta anak yatim itu, dan keempat, memakan harta anak yatim tatkala dalam keadaan terpaksa, dan apabila ia telah mampu, harus mengembalikan dan jika ia benar-benar tidak mampu hal tersebut dihalalkan.
Kecuali mengancam orang yang merugikan harta anak yatim, Allah juga akan mengangkat derajat orang-orang yang suka menyantuni anak yatim; sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, sampai Allah SWT mencukupkan dia, maka Allah mengharuskan ia masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak terampunkan” (H.R. Turmudzi).
Dari hadis ini, memberikan jaminan bagi orang-orang yang mau mengasuh anak yatim akan memperoleh imbalan pahala dari Allah SWT, berupa surga yang disejajarkan dengan surga Nabi saw., kecuali ia melakukan dosa-dosa yang tidak terampunkan oleh Allah SWT. Demikianlah kewajiban kita sebagai umat Islam dalam menyantuni anak yatim.***

---------
Muharram Ceria Bersama Yatim - Mari Kita Hantarkan Mereka Mewujudkan Harapan dan Cita - cita
Dengan Hanya 200rb anda telah turut berpartisipasi untuk memberikan 1 paket Pendidikan berupa :
1. Tas Sekolah
2. Alat Tulis
3. T-shirt
4. Uang Saku

Donasi :
Bank Syariah Mandiri 037 008 3987
Bank Muamalat Indonesia 526 000 4267
BNI Syariah 177 002 0103
 
Informasi ebih Lanjut Hubungi : 0823 2985 5000
Kantor Pusat
Jl. Ki Ageng Gribig No.8 Sangkal Putung, Gedung Lantai 2 Klaten Utara.
Telp. (0272) 325 805

Kantor Cabang Solo
Pajajaran Barat I No. 48 RT 02/ RW XVII Sumber Kec. Banjarsari, Surakarta 57138
Telp. (0271) 758 2930

Kantor Cabang Yogyakarta
Jl. Ring Road Timur, Banguntapan Bantul, Yogyakarta ( Perempatan Bangjo Karangturi )
Telp. 0815 7805 9694

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/10/renungan_jumat.htm
 

Muharam Ceria Bersama yatim


---------
Muharram Ceria Bersama Yatim - Mari Kita Hantarkan Mereka Mewujudkan Harapan dan Cita - cita
Dengan Hanya 200rb anda telah turut berpartisipasi untuk memberikan 1 paket Pendidikan berupa :
1. Tas Sekolah
2. Alat Tulis
3. T-shirt
4. Uang Saku

Donasi :
Bank Syariah Mandiri 037 008 3987
Bank Muamalat Indonesia 526 000 4267
BNI Syariah 177 002 0103
 
Informasi ebih Lanjut Hubungi : 0823 2985 5000
Kantor Pusat
Jl. Ki Ageng Gribig No.8 Sangkal Putung, Gedung Lantai 2 Klaten Utara.
Telp. (0272) 325 805

Kantor Cabang Solo
Pajajaran Barat I No. 48 RT 02/ RW XVII Sumber Kec. Banjarsari, Surakarta 57138
Telp. (0271) 758 2930

Kantor Cabang Yogyakarta
Jl. Ring Road Timur, Banguntapan Bantul, Yogyakarta ( Perempatan Bangjo Karangturi )
Telp. 0815 7805 9694

 

Kisah Rasulullah Mengasihi Anak Yatim

Kisah ini terjadi di Madinah pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri. Rasulullah saw seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu.
Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.
Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.
Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berjuang bersama Rasulullah saw. Dan kemudian ia meninggal dalam perjuangannya. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”
Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”
Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya.
Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah saw yang lembut seperti sutra itu.
Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :
“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”
Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :
“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatima Az`Zahra. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia dan bangga memiliki adik adikku yang menyenangkan bernama Hasan dan Husein. , dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”
Rasulullah saw bersabda : ”Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”

Dalam kesempatan lain,Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah bersabda :”Dan barangsiapa yang membelaikan tangannya pada kepala anak yatim di hari Assyura, maka Allah Ta’ala mengangkat derajat orang tersebut untuk untuk satu helai rambut satu derajat. Dan barangsiapa memberikan (makan dan minum) untuk berbuka bagi orang mukmin pada malam Asyuro, maka orang tersebut seperti memberikan makanan kepada seluruh umat Muhammad SAW dalam keadaan kenyang semuanya.”— Al Hadis.

*Diambil dari buku ‘Sayang Anak Yatim’, penulis Vani Diana P. (4.bp.blogspot.com)
 

Sedekah Anak Yatim untuk Tabungan Masa Depan Anda


Kita memang tidak bisa hidup sendirian. Kita hidup berdampingan dengan orang lain dan terkadang kita tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan untuk orang lain. Kita hanya memikirkan kepentingan kita sendiri dan kita hanya mencari peruntungan untuk memperkaya diri kita sendiri. Ini waktu yang sangat tepat bagi anda untuk mulai memikirkan orang lain. Anda sudah harus memulai memikirkan kehidupan anda yang akan datang dengan Sedekah Anak Yatim. Memberikan sedekah kepada anak-anak yatim sangat berguna bagi anda dan banyak sekali manfaat yang akan anda dapatkan ketika anda bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan. Anda tentu tahu bahwa bersedekah akan membuat kita menabung sebuah kebaikan dan kita akan mendapatkan pahala. Banyak cara untuk bersedekah terutama kepada anak-anak yatim piatu.

Cara Sedekah Anak Yatim yang Baik

Anda tentu tahu jika anak yatim adalah anak-anak yang tidak punya bapak. Sedangkan piatu adalah anak-anak yang tidak punya ibu. Anda harus menyisihkan uang anda untuk membantu mereka. Banyak cara untuk mulai bersedekah kepada mereka. Anda bisa memberikan Sedekah Anak Yatim  dengan berbagai hal untuk mereka seperti:
  • Makanan dan Uang
Jika anda berkunjung ke panti asuhan, anda bisa membawa beberapa makanan instant yang berguna bagi mereka. Anda juga bisa bersedekah uang. Uang sangat penting dan bisa digunakan untuk kebutuhan sekolah mereka.
  • Peralatan Sekolah dan Baju
Baju dan peralatan sekolah juga sangat penting bagi mereka. Mereka terkadang tidak punya cukup uang untuk membeli peralatan sekolah dan baju sekolah. Anda bisa bersedekah dalam bentuk barang. Sedekah tentu tidak selalu berbentuk uang.

Waktu-waktu untuk Sedekah Anak Yatim

Anda bisa Sedekah Anak Yatim di waktu-waktu yang tepat. Sebenarnya anda bisa melakukan sedekah kapanpun anda maui tetapi ada beberapa waktu yang sangat baik untuk bersedekah seperti:
  • Setiap anda memiliki Hajat untuk urusan anda, selama itu untuk hal-hal yang tidak dilarang Agama.
  • Setiap Hari Jum’at
  • Lebaran Anak Yatim
  • Pada bulan puasa
  • Pada hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri
Tidak ada salahnya ada menyisihkan sebagian penghasilan dari anda untuk bersedekah. Semua harus berawal dari niat yang baik sehingga anda akan mendapatkan pahala yang berguna bagi masa depan anda didunia ini dan di akhirat nanti.
sumber: http://www.anakyatim.org/sedekah-anak-yatim-untuk-tabungan-masa-depan-anda.html
 

Siti - Si kecil Yatim Penjual Bakso

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun membuat miris pembaca kaskus dan kompasiana dengan kisah perjuangan hidupnya. Siti orang pinggiran adalah seorang anak yatim yang harus ikut bekerja membiayai hidupnya dan ibunya dengan berjualan bakso keliling. Siti Pedagang Bakso cilik tinggal di Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Siti orang pinggiran yang harus kita pedulikan. Tulisan ini adalah milik seorang penulis kompasiana. Mari kita simak kisah hidup Siti Bocah Penjual Bakso

Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun

Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.

Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.
Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

Video Siti Bocah Cilik Penjual Bakso dengan untung Rp 2000/hari


Suara siti pas nawarin bakso bikin ane nangis, gan  Banyak yang tergerak untuk membantu Siti bocah penjual bakso baik melalui komunitas kaskus, kompasiana maupun bantuan dari Trans7. Diharapkan orang pinggiran seperti Siti dapat tertolong dengan bantuan teknologi informasi dari para dermawan di kota besar. Ayo kita bantu Siti Bocah Penjual Bakso!

Bagi yang ingin mengirimkan donasi

  • Trit bala bantuan kaskuser dan tempat mengirimkan donasi di sini (saat ini sudah mencapai nominal Rp. 23.400.000 dan rencananya akan disumbangkan dalam bentuk produktif warung bakso+modal dan biaya sekolah)
  • Tulisan asli oleh Ira Oemar di kompasiana di sini
  • Update Kunjungan ke rumah siti 1 di sini
  • Update Kunjungan ke rumah siti 2 di sini
  • Update Kunjungan ke rumah siti 3 di sini
  • Link Album Facebook Siti Penjual Bakso Berusia 7 Tahun di sini
sumber : http://www.ronywijaya.web.id/2012/03/siti-penjual-bakso.html
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Peduli Yatim Piatu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger